Latest Article

Blog dan Website Kuliner Pilihan U-Magazine

Majalah U-Mag, terbitan kelompok Tempo Media Edisi Maret 2008 mengulas tuntas blog dan website kuliner pilihan. Majalah kaum urban dan lifestyle ini menurunkan artikel menarik berjudul Blog dan Situs Maknyus di dalam Rubrik Tech.
Blog dan situs pilihan U-Mag tidak hanya dari dalam negeri namun blog kuliner luar negeri, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa asing. […]

Continue reading

About

IndoKuliner is an Indonesian Culinary Lovers - Dining guide in Indonesia & Culinary Adventure Sharing Experience. As Culinary adventure corner, please share your indonesia culinary adventure at IndoKuliner... You are most welcome my friends...

Recent articles

Tempat Makan Enak Rekomendasi Para Pakar Kuliner

Gb. INFO kuliner
Mencoba aneka menu hidangan di restoran bisa jadi salah satu hobi Anda yang menyenangkan. Namun ceritanya sedikit berbeda ketika pakar kuliner yang mencicipinya. Mereka tidak hanya mencoba, namun juga mengevaluasi kelebihan dan kekurangan suatu hidangan. Baik dari sisi rasa, tekstur, aroma, warna hingga penyajian. Maklum bagi mereka makan bukan hanya memenuhi kebutuhan rasa lapar tetapi memang pekerjaannya suka menilai kualitas makanan dari sisi uji organoleptik.

Tempat Makan Nyampleng Rekomendasi Para Pakar Kuliner, demikian tema tulisan utama Tabloid Info Kuliner No 12 yang beredar 03-16 Maret 2008. Selain tempat makan, para pakar juga merekomendasikan hidangan jempolan dari restoran yang menjadi tempat makan favoritnya. Seperti apa ya resto dan menu andalan William Wongso, Sisca Soewitomo, Sisca Susanto, Enita Sriyana dan Budi Boga? Baca berita lengkapnya di Tabloid Info Kuliner Terbaru - Tabloid yang menjadi panduan usaha dan wisata kuliner.

Di dalam edisi ini, Info Kuliner juga menyajikan puluhan artikel menarik, diantaranya:

  • Membedah tuntas usaha mie ayam
  • Aneka resep cup cake, kue-kue modern dan beragam cake berhias
  • Resep menu sehat & diet
  • Aneka serabi moderen untuk wirausaha
  • Serta kisah sukses wirausaha soto gading dan soto kuning.

Banaran Coffee

Deskripsi

Banaran Coffee adalah nama sebuah coffee house yang terletak di dalam area perkebunan kopi
milik PTPN, yang terletak di jalur utama Semarang-Surakarta di ruas antara Bawen-Tuntang,
yang juga merupakan area berpegunungan. Bagi anda para pecinta kopi, mungkin sudah terbiasa dengan coffee house yang memiliki brand global seperti Starbucks, atau kompetitornya seperti Oh La La dan Dome. Coffee house seperti ini menawarkan tempat menikmati kopi dengan suasana dan menu bergaya barat, dan umumnya terletak di pusat keramaian di tengah kota. Banaran Coffee menawarkan konsep yang berbeda,yaitu tempat menikmati kopi di tempat yang asri di dalam area perkebunan yang cukup luas, sehingga boleh dibilang konsepnya menggabungkan konsep wisata kuliner dengan wisata agro, dengan jargon “Menikmati kopi yang dipetik dari kebun sendiri”, maka Banaran Coffee memang menawarkan sesuatu
yang berbeda dengan Coffee House yang selama ini ada.

Letak

Banaran Coffee terletak di jalur utama Semarang-Surakarta di ruas antara Bawen-Tuntang. Bila anda datang dari arah Semarang menuju Surakarta, maka Banaran terletak di sebelah kanan jalan, anda akan melihatnya setelah melewati pertigaan Bawen (pertigaan menuju arah Yogyakarta). Meskipun terletak di dalam area perkebunan kopi, bangunan coffee house cukup dekat dengan jalan raya , dengan papan nama yang cukup besar dan terlihat jelas dari jalan raya, sehingga tidak ada kesulitan yang cukup berarti untuk mencarinya. Bila anda datang dari arah Surakarta menuju Semarang, maka Banaran Coffee terletak di kiri sebelah kiri jalan sebelum pertigaan Bawen menuju arah Yogyakarta.

Review

Banaran Coffee menyajikan menu utama berupa minuman kopi dan teh, dengan berbagai variasinya (misal : capuccino, espresso , ice black coffee, dsb), namun variasi ini penulis rasakan terlalu sedikit untuk sebuah kafe yang mengusung image hidangan kopi. Rasa kopi pun menurut penulis biasa-biasa saja, tidak terlalu istimewa. Namun, hal unik yang disediakan oleh Banaran Coffee coffee house modern seperti ini adalah makanannya. Pada umumnya coffee house modern di dominasi oleh brand-brand barat seperti Starbucks, Oh La La, Dome, dsb, yang selain kopi juga menyajikan aneka makanan bergaya barat seperti pie , muffin, dsb. Namun makanan yang dihidangkan oleh Banaran Coffee kebanyakan adalah makanan-makanan (baik ringan maupun “berat”) yang bergaya tradisional, seperti : pisang goreng, tempe mendoan, nasi pecel, dsb.

Secara tradisional, pasangan minum kopi di Indonesia memang goreng-gorengan tradisional seperti pisang goreng,tempe mendoan, dsb., dan Banaran Coffee menyajikannya dengan kualitas yang patut diacungi jempol. Pisang goreng dan variasinya (pisang goreng madu) benar-benar membuat lidah bergoyang. Disajikan hangat, empuk dan manis, sangat cocok untuk dinikmati bersama kopi di udara sejuk pegunungan. Tempe mendoan juga mendapatkan penilaian yang bagus dari penulis, disajikan hangat lengkap dengan cabe rawit pedas. Harga yang ditawarkan juga cukup menarik (relatif terhadap coffee house di Jakarta, selisihnya cukup jauh).

Bagi yang suka menikmati kopi & snack disertai alunan life music, pengunjung bisa memilih area di dalam bangunan utama coffee house, sedangkan bagi yang lebih suka suasana yang natural, asri dan tenang dengan panorama perkebunan, tersedia pula tempat di luar bangunan utama, yaitu tenda-tenda yang didirikan rapi di area perkebunan tidak jauh dari bangunan utama.

Terdapat pula bangunan-bangunan gardu permanen di puncak bukit dengan panorama yang lebih menawan dengan letak yang lebih jauh dari bangunan utama, yang dapat dimanfaatkan untuk menikmati kopi, namun berlaku charge tambahan untuk menggunakannya.


Bagi anda yang datang bersama keluarga dan anak-anak, tersedia arena bermain anak-anak yang cukup luas lengkap dengan permainannya.
Tersedia pula fasilitas agro-wisata berupa kereta kelinci yang akan mengelilingi area perkebunan. Di dalam kompleks juga tersedia mushola yang sangat representatif dan toilet-toilet yang sangat bersih. Bagi anda yang dalam perjalanan jauh melewatinya, Banaran Coffee menjadi tempat yang sangat menarik untuk melepas lelah dan menikmati kopi untuk mengusir kantuk :).

Scoring (skala : 10)
Rasa hidangan utama (kopi) : 7
Rasa hidangan pendamping (snack) : 9
Rasa hidangan pendamping (makanan besar) : 7.5
Kebersihan : 8
Suasana : 9
Pelayanan : 8
Value for money : 8

Kesimpulan

Menu utama berupa kopi yang dijadikan brand Banaran Coffee memang tidak menawarkan citarasa yang istimewa (meskipun tidak berkualitas rendah juga) namun hal ini bisa diimbangi dengan kualitas makanan tradisional yang berkualitas prima dan harga yang menarik, relatif terhadap Coffee House di Jakarta.
Ditambah dengan suasana “back-to-nature”, asri, tenang dan tambahan fasilitas rekreasi, dimana semua ini umumnya tidak akan bisa anda dapatkan di Coffee House ber-merk global, maka secara overall, Banaran Coffee menjadi tempat menarik untuk dikunjungi bagi para pecinta minuman kopi.

Regards.

Tony Wiharjito

tonywiharjito-culinary.blogspot.com

The Ours Cafe

Deskripsi

The Ours Cafe adalah sebuah kafe di kota Semarang yang menawarkan menu minuman dan makanan yang kebanyakan (tidak semua) bergaya barat. Menu-menu yang disajikan tergolong unik (yang bakal sulit didapatkan di kafe-kafe sejenis), entah dari mana pengelola kafe mendapatkan resep-resepnya :). Selain hidangannya, hal lain yang ditawarkan adalah suasana
yang cukup romantis dalam keremangan dan bangunan yang digunakan berupa bangunan tua bergaya kolonial, menambah unik suasana. Dilihat dari jenis hidangan, suasana dan dilengkapi dengan fasilitas accoustic life music (meski tidak rutin), terlihat bahwa pangsa pasar kafe ini adalah anak-anak muda.

Letak

The Ours Cafe terletak di daerah tanjakan tanah putih (Jl. Dr. Wahidin), kota Semarang. Bila anda datang dari arah kawasan Peterongan naik menuju kawasan Semarang atas melalui tanjakan kawah putih, tidak jauh dari pertigaan Jl. Dr. Wahidin dengan Jl. Tentara Pelajar,
di sebelah kiri jalan ada jalan masuk menuju ke kawasan pemukiman. 100m dari mulut jalan masuk tersebut, anda akan menemukan The Ours Cafe. Papan nama memang tidak terlihat dari luar, namun suasana kafe akan terlihat dari luar.
Letak The Ours Cafe adalah pada bulatan merah pada peta di atas.

Review

Pertama kali penulis memasuki The Ours Cafe kemudian melihat daftar menu dan harganya, sempat sedikit berburuk sangka membayangkan rasanya mengingat harganya yang sangat murah untuk ukuran kafe gaul. Sebab menurut pengalaman penulis, tidak banyak kafe sejenis yang mengutamakan rasa meskipun harganya tidak murah, umumnya hanya mengutamakan suasana.
Menu yang penulis coba waktu itu antara lain minuman bernama “Buket Creme Blend“. Minuman ini berkomposisi antara lain kopi, butiran coklat,coklat,susu dan mungkin beberapa bahan lain. Pelayan kafe mempromosikan minuman ini sebagai minuman yang “cowok banget“. Dan ternyata rasanya mantap sekali, lebih mantap dari sekedar chocolate milk shake, dengan rasa yang bahkan lebih unik. Rasa kopi, coklat dan susu nya membentuk sebuah kombinasi rasa yang sangat sinergis. Sambil menikmati Buket Creme Blend, penulis mencoba beberapa menu makanan kecil seperti fries dan nugget. Yang membedakan fries di The Ours Cafe dengan tempat lain adalah, fries di The Ours dilengkapi pilihan rasa : Barbeque atau Keju. Dan rasa barbeque atau keju nya benar-benar berasa dari fries tersebut, tidak hanya sekedar “label” :). Snack lain yang penulis coba adalah chicken nugget, yang rasanya juga patut diacungi jempol, gurih. Sayangnya sedikit sekali menu “makanan besar” yang tersedia, itu pun saat itu penulis tidak mencobanya.

Buket Creme Blend dan Chicken Nugget

Selain dari hidangan berkualitas yang disediakan, suasana kafe juga tergolong OK, meski tidak ada kesempatan untuk melongok keindahan cahaya lampu kota Semarang bawah di malam hari sambil menikmati hidangan (The Ours Cafe terletak di daerah tinggi), sebab posisinya terlalu jauh dari tebing (city light view dari tebing menjadi andalan beberapa kafe ternama di Bandung).
Namun suasana bangunan tua bergaya kolonial, pencahayaan yang temaram dan penataan tanaman masih bisa memberikan suasana elegan dan romantis. Bila anda beruntung, tersedia juga sajian musik live accoustic yang tidak rutin diselenggarakan.


Sesampainya penulis di rumah, ternyata apa yang dipromosikan pelayan kafe bahwa Buket Creme Blend adalah minuman yang “Cowok banget” ternyata maknanya lebih dari yang penulis kira. Sebab sesampainya di rumah, begitu kuat pengaruh kafeinnya sampai penulis baru bisa tidur sekitar jam 4 pagi meski sudah merasa sangat mengantuk dan lelah. Ternyata hal yang sama juga dialami rekan-rekan penulis yang juga meminumnya :).

Scoring (skala : 10)
Rasa hidangan minuman (sample : Buket Creme Blend) : 9
Rasa hidangan makanan kecil (sample : fries,nugget) : 9
Rasa hidangan makanan besar : N/A (tidak dicoba)
Kebersihan : 8
Suasana : 8
Pelayanan : 8
Value for money : 9

Kesimpulan

Dengan rasa hidangan yang berkualitas, suasana yang cukup OK , pelayanan yang bagus, dan harga yang sangat bersaing di kelasnya, maka The Ours Cafe boleh dibilang sebagai : “Bukan kafe gaul biasa“, sebab tidak banyak kafe sejenis yang memberikan rasa hidangan yang prima dengan harga yang terjangkau. Akan lebih mengesankan bila kafe ini memiliki city light view, namun kelemahan ini sudah terkompensasi dengan segala kelebihan lain yang dimiliki. Jadi bila anda sedang berada di Semarang dan mencari sebuah kafe yang “bukan sekedar kafe gaul biasa”, maka The Ours Cafe adalah pilihan yang sangat menarik.

Regards.

Tony Wiharjito

tonywiharjito-culinary.blogspot.com

Lovingly Semarang

Bondan Winarno
- Penulis -
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan masih akan terus melakukan pengembaraannya. (E-mail: bwinarno@indosat.net.id)

William Wongso
Jajan Pasar Bu Suminah, sejak 1955

Sebelum saya ditangkap polisi karena diadukan oleh para pembaca yang tak sabar menunggu, sebaiknya saya segera menepati janji saya beberapa minggu yang lalu untuk meneruskan cerita tentang Semarang. Soalnya, sudah banyak pembaca yang \”mengancam\” saya untuk segera menyambung cerita. Salah satu e-mail yang saya terima dari Ronny Gunawan memakai judul yang rada merayu: Lovingly Semarang. Rupanya, karena sudah lama tinggal di Perth, Australia, dia sudah kangen berat sama Bu Muji, penjual nasi ayam di Jalan MT Haryono, Semarang. Ronny bahkan \”menuntut\” saya menulis tentang sego ayam alias nasi ayam yang khas Semarang. (Sekaligus catatan ini sebagai ungkapan terima kasih kepada Dimas Bakti Sudaryono dari World Bank yang pada acara house-warming di rumah saya menyumbang satu catering truck nasi ayam!).

Orang Semarang paling \”marah\” kalau dikatakan bahwa nasi ayam \”serupa tapi tak sama\” dengan nasi liwet Solo. Padahal, sebetulnya memang setali tiga uang. Nggih sami mawon! Nasi putih yang dimasak dengan cara diliwet (tidak dikaru di dandang!) dihidangkan di pincuk daun pisang, dengan lauk opor ayam dan sayur labu siam (orang Semarang menyebutnya jipang) yang berkuah encer. Menurut Bu Pini yang berjualan nasi ayam di Gang Pinggir, beda nasi ayam Semarang dan nasi liwet hanyalah pada banyaknya kuah opor yang disiramkan. Orang Semarang lebih suka \”banjir\”, yaitu nasi ayam dengan kuah melimpah. Orang Solo menyukai nasi liwetnya nyemek.

Varian nasi ayam juga terletak pada kuah sayur labu siam yang mlekoh (berlemak) dan manis, versus kuah yang encer dan kurang manis. Di antara rentang keberlemakan dan kemanisan itulah masing-masing penggemar nasi ayam menjadi fanatik terhadap pedagang nasi ayam langganannya.

Benny Setiono, penulis buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, menulis di Forum (milis) Jalansutra tentang sego ayam alias nasi ayam kesukaannya, yaitu Nasi Ayam \”Karangkojo\” yang mangkal mulai sore hari di seberang RS Telogorejo, Semarang. Menurut Benny, itulah nasi ayam paling enak di Semarang. Menurut saya, nasi ayam \”Karangkojo\” ini tergolong nasi ayam yang mlekoh kuahnya.

Benita Eka Ariyanti yang punya beberapa restoran di Semarang, tentu saja, merasa berhak pula untuk menyampaikan versinya tentang nasi ayam yang paling enak.

Menurutnya, di Semarang hanya ada dua jenis nasi ayam: enak, dan uenaaak. Nominasinya adalah penjual nasi ayam di kaki lima depan sekolah Karangturi di Jalan MT Haryono, atau di depan sekolah Santo Yusuf di Bangkong. Kata Benita, di situ orang bisa duduk bersila di tikar, atau duduk di dingklik, sambil mendengarkan gosip-gosip para orang tua yang sedang menjemput putra-putri mereka. Kalau tidak salah, tempat yang dimaksud Benita ini sama dengan yang dikangeni Ronny, yaitu Nasi Ayam \”Bu Muji\”.

\”Lurah\” Jalansutra di Semarang, Widya Wijayanti, merasa perlu untuk segera menengahi perdebatan. Menurutnya, semua penjual nasi ayam di Semarang mempunyai penggemar fanatiknya masing-masing. \”Karangkojo\” menurutnya memang enak, tetapi cara makannya \”kurang joss\” karena duduk di bangku dan memakai meja. Cara makan nasi ayam yang pas, menurutnya, adalah duduk di dingklik atau bersila di tikar. Widya menyebut nasi ayam \”Bu Pini\” di Gang Pinggir dan yang di dekat kantor polisi di Jalan Brumbungan (keduanya buka sekitar pukul setengah tujuh malam), sebagai favoritnya.

Di masa kecil saya dulu, pedagang nasi ayam selalu memakai tenggok dari bambu yang digendong di belakang dengan selendang, serta mencangking panci yang berisi sayur labu siam. Kebanyakan penjual nasi ayam ini berkeliling ke rumah-rumah di sekitar kawasan Wotgandul. Karena dulu ayam merupakan makanan mewah, kami lebih sering minta sego jangan (nasi sayur) saja, yaitu nasi dan sayur labu siam, tanpa opor ayam. Sekarang, mbok-mbok penjual nasi ayam yang memakai gendongan itu masih bisa dijumpai di daerah Pecinan Semarang.

Pada malam hari, kawasan Simpang Lima yang merupakan the gathering place orang-orang Semarang, banyak juga didapati penjual nasi ayam. Di kaki lima depan Simpang Lima Plaza, misalnya, bisa didapati salah satu penjual nasi ayam yang dianggap paling populer. \”Kotak wayang\”-nya, menurut istilah Widya, baru dibuka sekitar pukul sepuluh malam. Pada malam minggu sedikitnya bisa dijumpai lima penjual nasi ayam yang ramai diserbu penggemarnya.

William Wongso
Merajang Cabe Tanpa Talenan

Menyambung cerita perjalanan saya ke Semarang bersama William Wongso beberapa minggu yang lalu, pagi-pagi kami berdua diantar Benita dan Ratna ke pasar tradisional Gang Baru, kawasan Pecinan Semarang. Bagi saya, itu adalah kunjungan nostalgia. Di masa kecil, saya dulu sering disuruh Ibu berbelanja di pasar ini. Di dekat rumah kami ada sebuah pasar bernama Grobogan. Rumah kami juga tak jauh dari Pasar Johar, pasar besar Semarang. Tetapi, bila Ibu ingin masak khusus untuk arisan, maka saya disuruh belanja di Gang Baru.

Saya belum lama menyadari bahwa hampir di setiap kota Indonesia, pasar di kawasan Pecinan selalu mempunyai barang dagangan dengan kualitas lebih bagus dan lebih lengkap. Sayur dan buah selalu lebih segar. Begitu juga ikan dan daging. Orang Tionghoa sangat menyadari bahwa masakan yang bagus harus dimulai dengan bahan-bahan yang terpilih.

Tentu saja, harga-harga bahan makanan di pasar pecinan pun sedikit lebih tinggi karena memang dipilih secara khusus. Kalau Anda pernah berbelanja di Pasar Petaksembilan di Jakarta, Anda juga akan menyadari betapa kualitas bahan makanan yang dijual di sana jauh lebih bagus daripada di pasar-pasar tradisional lainnya. Selain itu, ragam yang dijajakan di pasar-pasar pecinan pun biasanya jauh lebih lengkap.

Memang banyak orang yang prejudice terhadap pasar pecinan, seolah-olah yang dijual di sana semuanya adalah bahan makanan haram. Ya, tentu saja di sana dijual daging babi yang digelar pada meja-meja tersendiri. Mereka yang tidak memerlukan daging babi tentunya tidak perlu datang ke dekat-dekat meja itu.

Pagi itu saya sempat berbelanja ikan pari asap yang biasanya dimasak menjadi hidangan mangut iwak pe yang memang cukup khas di Semarang. Ikan pari asap termasuk komoditas yang jarang ada. Selain itu saya juga membeli dendeng udang yang juga sangat langka. Dendeng udang, menurut saya, adalah khas peranakan. Udang dibuang kulit, ekornya dibiarkan, lalu dibelah, diberi bumbu dendeng, lalu dijemur sampai kering. Sebelum digoreng, dicelup sebentar ke air dingin. Bisa membayangkan rasanya? Jangan lupa, sisa minyak gorengnya dipakai untuk membuat sambal jelantah. Ala maaaak!

Sepanjang perjalanan di Gang Baru itu mata saya nanar mencari-cari bahan makanan yang di Semarang disebut blenyik. Penampilan blenyik mirip baso kecil, tetapi dengan warna keruh dan permukaan yang tidak licin. Bulatan-bulatan ini merupakan gumpalan teri kecil halus. Digoreng dengan lapisan kocokan telur, dimakan dengan nasi hangat dan sambal jelantah sisa menggoreng dendeng udang. Hmmmh, inikah surga dunia?

Di Gang Baru pagi itu William tertarik pada kue-kue basah tradisional yang dijajakan oleh Bu Suminah. Ibu tua ini sudah 49 tahun berjualan di Gang Baru secara terus-menerus. Jajanan yang dijualnya komplet. Yang paling populer adalah ketan biru yang dimakan dengan enten-enten (parutan kelapa dimasak dengan gula aren). Aslinya dulu warna biru pada ketan dihasilkan dari kembang theleng, sejenis bunga khusus yang menghasilkan warna biru agak ungu yang cantik. Sekarang, efek warna biru itu dicapai dengan sumba khusus makanan. Ketan biru biasanya dicampur dengan ketan putih dan ketan merah-coklat, sejumput demi sejumput, sehingga menghasilkan sajian yang menarik.

William Wongso
Pecel Bu Surip

Jajanan khas lainnya adalah gendar (semacam juadah) yang dibuat dari nasi dan garam bleng (garam cair alami yang muncul dari dalam perut bumi, sumbernya di dekat Purwodadi, tak jauh dari Semarang. Mungkin inilah yang disebut air kie oleh orang Tionghoa). Gendar dimakan dengan parutan kelapa. Tentu saja Bu Suminah juga menyediakan getuk dan berbagai jajanan khas Jawa Tengah lainnya. Pembeli kebanyakan hanya menyebut jumlah uang yang ingin dibelanjakan, dan minta Bu Suminah membungkus semua jajanan secara campuran.

Untuk sementara waktu warga Semarang tidak perlu khawatir jajanan pasar akan punah. Putri Bu Suminah sekarang sudah mengikuti jejak dengan membuka dagangan di pasar yang sama. Ia masih kalah bersaing dengan ibunya. He he he, di sini baru berlaku \”hukum\” bahwa yang tua belum tentu kalah bersaing dengan yang muda.

Pagi itu kami juga singgah ke tempat Bu Surip berdagang pecel. Sama dengan pecel \”Bu Sami\” yang kami makan semalam sebelumnya, atau pecel \”Bu Sador\” di Gandekan, pecel \”Bu Surip\” ini menampilkan pecel gagrak Semarang yang khas.

Sebelum meninggalkan pasar becek Gang Baru, kami sempat mencicipi siomay \”Cap Kao King\”. Ini memang siomay legendaris yang asalnya di Kampung Ayam, Jalan Plampitan. \”Saya cuma nerusin usaha mamah,\” kata pria penjualnya yang sekarang mangkal persis di mulut pasar Gang Baru. Siomay-nya king size. Rasanya mak nyus. Harganya lima ribu sepotong. Sayang, tidak halal! Maaf!

Sumber: kompas.com

Dua Hari Dua Malam di Semarang

Bondan Winarno
- Penulis -
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan masih akan terus melakukan pengembaraannya. (E-mail: bwinarno@indosat.net.id)

Belum lama ini saya bersama William Wongso berada di Semarang untuk menjadi juri lomba boga SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) tingkat nasional yang diikuti 28 provinsi. Tentu saja banyak waktu luang yang tidak kami sia-siakan untuk melakukan eksplorasi makanan khas Semarang.

Begitu mendarat, William langsung mengajak makan tahu pong. Sayangnya, langganan saya di Jalan Gajah Mada tutup di hari Minggu. Kami kemudian memutuskan untuk makan sate buntel di depan Gereja Blenduk. Tetapi, ternyata tempat itu juga tutup pada hari Minggu. Saya sarankan untuk mengalihkan sasaran ke “Sate Kapuran” yang juga populer di Semarang. Warung sate kambing legendaris ini milik orang Tionghoa. Selain sate daging dan hati, William juga memesan gule sumsum.

Di warung itu, “aturan”-nya sate dilolos dari tusukannya. Tetapi, William tidak mau makan sate dengan cara itu. Sate ya harus dimakan dari tusukannya. Gule sumsumnya cukup enak. Setidaknya, sumsumnya dimasak secara tepat, sehingga tidak hancur bagian dalamnya. Masih bisa disruput langsung dari dalam tulangnya.

Untuk makan malam, saya menelepon Widya Wijayanti, anggota Forum (milis) Jalansutra yang tinggal di Semarang. Widya kemudian “mengerahkan” Benita Eka Arijani dan Ratnawati Tjahjani, keduanya juga anggota Forum Jalansutra di Semarang, untuk ikut meramaikan perburuan kami. William sudah memberikan referensi bahwa malam itu ia ingin ngemper – makan di emperan atau kaki lima.

Malamnya, Widya datang dengan daftar 18 tempat makan yang dapat dijumpai di sepanjang Gang Pinggir dan Jalan Wotgandul Timur, kawasan Pecinan Semarang. Sebagai salah seorang konseptor Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) Widya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperkenalkan kawasan yang sedang di-revitalisasi itu kepada William.

Kami mulai dengan warung tenda “Nyonya Gunung” di emperan rumah Gang Pinggir nomor 116. Warung ini menyediakan sop bakut (iga babi) sayur asin, dan sate babi. Ini memang kombinasi yang cocok, sesuai dengan diskusi yang pernah terjadi di Forum Jalansutra belum lama ini.

Sop bakut sayur asinnya segar, dagingnya empuk. Saya menghabiskan setengah porsi yang dipesan. Satenya – terdiri atas daging, hati, dan usus – tidak kami habiskan. Saya sependapat dengan William, satenya terlalu manis. Dibumbui dengan kecap dan kacang sebelum dibakar, lalu disiram lagi dengan saus kecap dan kacang. Malam itu Widya menjadi golongan minoritas karena tidak makan babi.

Setelah Benita dan Ratna bergabung, kami beranjak ke tempat lain, menyusuri sepanjang Gang Pinggir dan Jalan Wotgandul Timur. Soto ayam “Jack Brewok” di daftar Widya terpaksa kami lewati karena tidak cukup eksotis untuk dicoba. Tetapi, bau nasi goreng babat di dekat situ rupanya menghentikan langkah William. Kami harus menunggu agak lama karena masih ada empat porsi yang sudah dipesan. Pak Kariri, penjual yang mengaku sudah belasan tahun berjualan nasi goreng babat, menolak membuat dua porsi sekaligus. Ini memang SOP (Standard Operating Procedure) pembuat nasi goreng babat Semarang. Sekali menggoreng hanya untuk satu individual portion. Bumbunya harus merasuk, itulah kuncinya.

Di masa kecil saya ketika tinggal di Semarang dulu, penjual nasi goreng babat selalu memikul “dapur”-nya keluar-masuk kampung. Sekarang semua memakai gerobak dorong. Dulu, penjualnya hanya membawa babat dan jeroan serta bumbu-bumbu – selain tentu alat-alat untuk memasak – sedangkan nasinya disediakan pembeli. Sekarang, nasinya pun disediakan penjual.

Widya memilih beberapa jenis jeroan untuk pesanan kami – babat, paru, usus. Benita minta perhatian saya terhadap cara Pak Kariri merajang bawang merah. Tidak melintang, melainkan membujur atau memanjang. Ini juga termasuk SOP nasi goreng babat. Semua penjaja nasi goreng babat menggunakan spatula (sutil) untuk menggoreng yang dibuat dari sendok pengaduk semen, tetapi dibengkokkan sedemikian rupa. Spatula seperti itu tampak sangat efisien dan mantap untuk menggoreng nasi. Rajangan bawang merah ditumis dengan sambal terasi bumbu khas dan jeroan, terakhir nasi dan kecap dimasukkan ke wajan. Hasilnya adalah nasi goreng yang berwarna agak gelap.

Sesuai dengan logistik – karena kami masih harus mencicipi berbagai hidangan lain – kami hanya memesan satu piring nasi goreng dengan lima sendok. Sambil berdiri, kami ramai-ramai menghabiskan satu piring nasi goreng itu. Pak Kariri heran melihat kami berlima berebut menghabiskan masakannya.

Sambil menunggu giliran kami dilayani Pak Kariri, Benita dan Ratna sempat memesan es campur dari tenda “Es Marem Asli Cap Kao King” di sebelah. Kalau Anda pernah membaca Jalansutra berjudul “Imlekan di Semarang”, Anda ingat referensi Cap Kao King sebagai sebutan asli untuk kawasan Pecinan Semarang yang awalnya bermula dengan 19 rumah (= cap kao king). “Es Marem” yang awalnya buka warung di Jalan Petelan Selatan ini sekarang sudah punya banyak cabang bertebaran di Semarang.

Sambil menunggu saya juga sempat menyeberang jalan melihat penjual mi jawa yang tampaknya sangat laris. Pembeli antre dan makan sambil duduk di bangku-bangku yang diletakkan di trotoar. Sebagian malah makan di dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan. Beberapa penjual mi jawa di kawasan Pecinan ini biasanya menyediakan grabyas (minyak babi) untuk penyedap masakan, khusus bila diminta. Untuk minta grabyas, diperlukan kata sandi, yaitu “kepyur-kepyur”. He he he … cerdik juga mereka!

Kami melanjutkan perjalanan dan singgah di tenda “Sate Sapi Lumayan”, persis di pertigaan depan Pasar Gang Baru. Bu Harjo yang sudah sepuh masih melayani pelanggannya setiap malam di tempat itu. Seperti kebanyakan penjual makanan Jawa, Bu Harjo menolak membuka cabang. Akibatnya, pelanggan harus rela antre di warungnya. Sate sapinya manis, dagingnya empuk, lontongnya juga empuk, dengan sambal kacang yang gurih. Lagi-lagi kami hanya memesan sepuluh tusuk dengan satu lontong untuk dimakan berlima.

Di sepanjang jalan itu, hilir-mudik juga para penjaja makanan kecil yang dengan sopan menawarkan dagangannya. “Mohon maaf, Bapak mau mencoba bakcang? Enak, lho?” tanya seseorang. Tak lama kemudian, penjaja keripik usus juga menawarkan dagangannya tanpa kesan memaksa. Wah, para pedagang asongan di Jakarta dan Bali perlu belajar dari counterpart mereka di Gang Pinggir.

Menjelang pertigaan dengan Jalan Beteng, kami singgah di warung nasi pecel “Bu Sami”. Pecel “Bu Sami” ini merupakan pesaing berat bagi nasi pecel “Bu Sador” di Jalan Gandekan (juga sudah buka cabang yang buka malam hari di Simpang Lima) kesukaan saya. Produk yang dijual sangat mirip. Pecel dengan sayur lengkap terdiri atas bayam, selada air, bunga turi, kacang panjang, tauge, dan kecipir, dengan sambal kacang yang ditumbuk kasar dan rasa kencur yang sangat kentara. “Aksesoris” pecel Semarang juga khas, yaitu: sate keong (bukan kerang!), telur matasapi, tempe dan tahu goreng, dideh (darah ayam), dan yang paling khas adalah bantal. Lho, bantal? Memang bukan bantal tidur. Bentuknya mirip martabak ukuran kecil, tapi isinya hanya sedikit sayuran, dipotong kecil-kecil. William memesan satu pincuk (porsi) yang kami cicipi ramai-ramai.

Di ujung Jalan Beteng kami menemukan gerobak “Pak No Pendek” yang berjualan sate dan bestik kambing. Semula kami hanya terpesona melihat cara Pak No memasak bestik kambing. Tiga sendok margarin dicairkan di wajan panas, sekaligus menggoreng rajangan bawang merah dan bawang putih. Sesudah itu dimasukkan daging yang dilolos dari sepuluh tusuk sate kambing. Beberapa iris tomat dimasukkan, lalu ditambahkan air dan kecap. Terakhir, sebelum matang, beberapa iris kentang rebus dimasukkan. Masakan ini dihidangkan dengan beberapa lembar daun selada.

Penampilan dan rasanya agak mirip racikan selat dari Solo, tetapi tanpa mayones manis. Kuahnya juga lebih kental. Sayangnya, dagingnya alot. Sekalipun sepiring dicicipi berlima, hanya sayur dan kuahnya saja yang kami habiskan.

Karena sudah kenyang, malam pertama itu kami tutup dengan singgah di warung es puter “Conglik” di emperan Gang Warung. Warung ini sangat unik. Ada beberapa tabung es puter, masing-masing dengan flavor of the day yang malam itu diwakili oleh rasa durian monthong, kelapa muda, blewah, coklat, alpukat, klengkeng, kacang hijau, dan leci. Porsinya sangat generous. Bila dihitung dengan scoop, satu porsi kurang lebih sebesar empat scoops. Yang unik adalah topping-nya, yaitu pilihan antara buah siwalan yang dibekukan, atau potongan roti tawar. Sebetulnya kata “atau” di sini bersifat sangat optional. Soalnya, kita dihalalkan mencampur apa saja di situ. Kita bisa pesan es puter rasa blewah dicampur dengan rasa durian dan rasa alpukat. Topping-nya juga boleh sekaligus siwalan dan potongan roti.

Wah, laporan tour de cuisine di Semarang ini ternyata tidak bisa selesai dalam satu episode. Silakan tunggu sambungannya kapan-kapan. Sementara itu, simpan dulu air liur Anda!

Source:
http://www.kompas.com

Batagor jalan Kebon Bibit Bandung

Jumat, 21 Mar 2008,

Saya jalan-jalan ke Bandung Selatan menuju Situ Patengang dan sekitarnya di daerah Ciwidey.
Jalan-jalan bersama istri dan anak2 dan adik-adik saya, kebetulan ada adik yang datang dari Semarang juga.

Cepat sekali perjalanan Jakarta Bandung sejak ada tol padalarang. Mungkin waktu tempuh sama saja dibanding kita jika jalan-jalan di dalam Jakarta.

BATAGOR BANDUNG
Malamnya sepulangnya dari Ciwidey, rombongan mampir ke Penjual Batagor langganan kami sejak 3 tahun yang lalu.
Makanan ringan apa yang dikonsumsi jika lagi jalan di Bandung? Pasti batagor bukan?

Batagor yang satu ini rasanya enak dan bumbunya paten!
Harganya murah pula, anda gak akan kecewa.

LOKASI:
Berjualan di gerobak di jalan Kebon Bibit (balubur), lokasi di seberang rektorat ITB. Harga murah, cukup rp.6000 isi 4 tahu. Silakan mencoba… Bungkus saja atau makan di mobil.

Silakan mencoba.

Budi Wiyono

http://budiw.co.cc/

Soto Semarang ‘Pak Rebo’ dengan ayam kampung

Semarang, kota yang tenang, nyaman, penuh dengan pilihan makanan, salah satunya Soto Semarang.

Kali ini saya bagi informasi Soto Semarang yang sejak saya masih Balita sering saya sambangi.
Soto bening, dengan kaldu ayam kampung, suegerr dan mantab! Ciri khas Soto Semarang di dukung dengan aneka pilihan makanan pendukung, seperti sate ayam kampung (berkuah), sate kerang, kepala ayam kampung jago (besar bok..), tahu, tempe, pekedel, etc.
Silakan mencoba, semoga puas…

Lokasi:
Jalan Purwosari Semarang, tidak jauh dari pasar burung.

Tips:
Supaya kuahnya optimum, datang agak sore jangan kemalaman, selain itu untuk menghindari kehabisan makanan pendukung.

Silakan mencoba.

Budi Wiyono

http://budiw.co.cc/

Nasi Goreng Babat & Babat Gongso ala Semarang

Di Jakarta anda belum pernah coba Nasi goreng babat ala Semarang? Atau Babat Gongso ala Semarang?

Memang makanan daerah setelah beredar di Jakarta seringkali sudah berubah rasa / sudah tidak orisinil lagi…

Tapi yang ini saya rasa cukup orisinil. Bagi yang belum pernah mencoba silakan mencicipi. Bagi yang asal Semarang dan ingin ber-nostalgia silakan…

BABAT GONGSO ala Semarang:

Jalan Kampung Melayu Besar

 

  • dari arah jalan Casablanca ke arah jalan Basuki Rahmat
  • sebelum fly over Kampung Melayu (sebelum Terminal Kampung Melayu)
  • sebelah kiri jalan, disamping Bakso Lapangan Tembak
  • Selamat ber-nostalgia / mencoba.

    Budi Wiyono

    http://budiw.co.cc/

    Nasi Gandul dijamin Wenak

    Nasi gandul adalah makanan khas Pati, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan makanan sejenis nasi pindang yang dalam penyajianya memakai daun pisang untuk alasnya.Nasi gandul bisa disajikan dengan lauk pauk yang berbeda. Bisa bergedel, tempe, lidah sapi, usus sapi, daging sapi, paru sapi, hati sapi, dll, kemudian diberi tambahan bumbu kecap manis-pedas. Kadar yang cukup tinggi dari lemak yang ada di “jeroan” atau “bagian dalam perut sapi” memberikan rasa yang lezat namun berkolesterol tinggi.

    Dinamakan nasi gandul karena nasi tidak langsung disajikan di piring, tetapi di alasi daun pisang (gandul= mengambang, Red).

    Nasi Gandul Pati

    Terus terang susah sekali cari Nasi Gandul yang bener-bener mak nyuss… Bahkan di Kota Pati sekalipun tidak semua Nasi Gandul bener-bener enak.

    Saya sudah nemu dua tempat yang oke punya:

     

  • Di Pati: mangkal di angkringan di depan eks pasar Turi (di sebelah kanan jalan). Yang satu ini tanpa nama tapi tob bgt.
  • Di Semarang: tenda mangkal di kiri jalan dr Cipto Semarang, lokasi di depan Lab klinis “CITO”. Posisi tidak jauh dari perempatan Jalan Dr Cipto - Jalan Patimura.
  • Silakan mencoba.

    Budi Wiyono

    http://budiw.co.cc/

    Kuliner Seputar Semarang

    Perlu ada yang saya ceritain nich, waktu berhenti di Semarang (berhubung jalan darat, jadi kami berhenti dan bermalam di Jateng dan Jatim), kami mendapat info kalou ada sate sapi nan enak di daerah Gombel. Menurut saya sich nggak pas betul di daerah Gombel, soalnya kami masih terus naik ke arah Srondol dan masih terusss naik lagi. Kebetulan kami tidur di Candi, jadi nggak terlalu jauh banget lokasinya. Tapi rasanya, kalou pun agak jauh, bila di lain waktu saya punya kesempatan ke Semarang, sudah pasti bakalan saya bela2in buat dihampiri lagi.Namanya Sate Pak Kempleng.

    Wow, sukses berat kami bisa makan di sana. Satenya nggak cuma daging sapi, tapi ada satu tusuk yang isinya hanya paru atau ginjal atau ati atau gajih/lemak dan lainnya deh. Kalou daging sapinya dibumbui agak manis, terasa seperti bumbu dendeng. Pelengkapnya adalah saus kacang seperti pada umumnya sate, plus ada satu mangkok lagi yang berisi potongan cabe rawit dan bawang merah. Tampaknya Pak Kempleng nggak sadis, dia masih berbaik hati memisahkan bumbu/saus kacang dalam satu wadah, cabe dan bawang merah dalam wadah yang lain.

    Menurut info tambahan, Pak Kempleng juga ada di Kelapa Gading, tapi konon, satenya tak seempuk yang di Semarang dan bumbu kacangnya terasa pelit, kalou yang di Kelapa Gading.

    Di Semarang masih ada bakul bubur seribu macam, yaitu di jagalan yang buka dasar pk.4:30 sore, atau di gang baru (pagi hari). tentu saja di tempat lain ada juga, tetapi rasanya tidak dijamin. hanya sayangnya kebanyakan bubur sekarang tidak dibungkus/kemas dengan daun pisang, sehingga aromanya kurang sempurna.

    Sayang gak ada orang Semarang ya…….. kangen sama jajanan disana.

    Sate buntel gereja Blenduk, Nasi goreng babat Mbrerok, Soto sapi Pak Kerry entah didalam pasar mana.. dll….dll…

    Semarang adalah mangut, ikan asap yang dimasak gulai. Ikannya bisa
    tongkol, pari, bahkan belut. Di Semarangpun cukup susah menemukan, karena rupanya dianggap makanan rumahan yg kurang layak saji, padahal lezatnya jangan ditanya lagi. Saya mendapatlan diwarung kecil di pertigaan ujung jalan Sriwijaya, tetapi yg lebih enak di dekat kantor kelurahan Sampangan. Kalau kurang comfortable dengan tempat makan klas kaki lima, bisa juga ke rumah-makan swalayan ber-AC Nglaras Roso di jalan Thamrin.

    Capcay goreng khas semarang yang khas berkuah saus merah dengan banyak
    kekian sekarang kalau tidak salah yang enak masih di phien tjwan hiang,
    gang pinggir Soto Bangkong yang asli ada di perempatan Bangkong. Di jalan Mataram

    Tepatnya daerah Grajen ada Nasi Pindang (sering saya dibuat gregetan, karena daun so nya dihitung, tapi rasa nya mantap), di depan warung Nasi Pindang ini ada Mie Tittee; di sepanjang jalan Mataram ini banyak penjual lumpia, yang asli adalah lumpia disebelah toko roti Sanitas (layar depan warna hijau). Terus melaju ke utara didaerah Bubakan ada Swikee Purwodadi; maju lagi di depan gereja Blenduk ada Sate Kambing 29 (jangan lupa nyoba gule sumsum nya).

    Lumpia Hoklay (saya lupa alamatnya, lokasinya dekat sekali dengan Depot Nguling yang terkenal dengan rawonnya). Favorit saya adalah lumpia basah dengan saus tauco, dimakan dengan lettuce, green onion, acar timun & cabe rawit. Sedangkan lumpia gorengnya sama dengan lumpia semarang, dengan sausnya yang kental. Tempat ini jadi langganan sepupu & tante-tante saya yang berkunjung ke Malang. Kadang-kadang pesan sampai 100 biji, dibawa ke Jakarta naik pesawat. LOL.

    Kalau pengin nasi goreng babat, setelah kretek mBerok disebelah kiri pinggir kali (tepatnya disebelah gedung Papak Departemen Keuangan) ada warung Nasi Goreng Babat (nyamleng tenan).

    Di jalan Pemuda ada restoran Oen, restoran kuno di Semarang, lokasi tepat di depan Toserba Sri Ratu, untuk desert, coba ice cream nya……..

    Belok ke Jalan Gajah Mada ada Tahu Pong, yang ini buka siang hari, kalau Tahu Pong yang buka malam hari lokasi nya dekat lampu lalulintas di perempatan Gajah Mada/Depok kearah Depok.

    Kalau mau nyoba Wedang Kacang, ada di Jalan Pemuda tepatnya didepan Hotel Merbabu (saya nggak yakin apakah mas Bondan pernah kesasar disini….)

    Nasi liwet yang enak tenan, buka mulai jam 10.00 malam, lokasinya Didepan Toserba Matahari di Simpang Lima (dekat Hotel Horison). Jangan salah pilih; karena jualan si mbok ini habis jam 2.00 pagi. Setelah itu diteruskan oleh mbok mbok lain yang numpang tempat. D Simpang Lima ini banyak tempat jajan yang buka malam hari. Kalau mau nyoba nasi gudeg, di warung ditikungan dekat Toserba Ramayana.

    Masuk daerah Pekojan didepan bekas gedung BPD Jawa Tengan ada Mie Pekojan namun hanya buka malam hari, kalo hari Minggu malam malah tutup. Mie disini pakai Ke Kyan (nulise bener opo salah(??). Ini langganan saya sejak tahun ‘75 yang sudah diteruskan anak2nya. Coba mie goreng telor dan cap jay nya, kalau tidak enak, tak bayari……. Kalau enak, saya di traktir ya.

    Didaerah Jagalan ada sate kambing Kapuran. Sejak saya sekolah SMA, warung sate ini sudah ada.

    Didaerah Ungaran - 25 kilometer dari Semarang arah ke Solo/Yogya, dekat Lampu lalu lintas ada Resto Kepiting Bagan Siapi api. Coba menu “kepiting telur bagan”nya………. Agak jauh ke selatan di daerah Karangjati ada Ayam Bakar, plus sayur bening, urap, dsb. dsb. Kalau sempat coba…..Kalau mau terus menuju Salatiga, coba bakso Taman Sari (lokasi nya sekarang dekat Terminal Bis Salatiga…

    Source:

    Anonim + berbagai sumber

    ACF loading animated gif  Please wait...