Bondan Winarno
- Penulis -
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan masih akan terus melakukan pengembaraannya. (E-mail: bwinarno@indosat.net.id)
William Wongso
Jajan Pasar Bu Suminah, sejak 1955
Sebelum saya ditangkap polisi karena diadukan oleh para pembaca yang tak sabar menunggu, sebaiknya saya segera menepati janji saya beberapa minggu yang lalu untuk meneruskan cerita tentang Semarang. Soalnya, sudah banyak pembaca yang \”mengancam\” saya untuk segera menyambung cerita. Salah satu e-mail yang saya terima dari Ronny Gunawan memakai judul yang rada merayu: Lovingly Semarang. Rupanya, karena sudah lama tinggal di Perth, Australia, dia sudah kangen berat sama Bu Muji, penjual nasi ayam di Jalan MT Haryono, Semarang. Ronny bahkan \”menuntut\” saya menulis tentang sego ayam alias nasi ayam yang khas Semarang. (Sekaligus catatan ini sebagai ungkapan terima kasih kepada Dimas Bakti Sudaryono dari World Bank yang pada acara house-warming di rumah saya menyumbang satu catering truck nasi ayam!).
Orang Semarang paling \”marah\” kalau dikatakan bahwa nasi ayam \”serupa tapi tak sama\” dengan nasi liwet Solo. Padahal, sebetulnya memang setali tiga uang. Nggih sami mawon! Nasi putih yang dimasak dengan cara diliwet (tidak dikaru di dandang!) dihidangkan di pincuk daun pisang, dengan lauk opor ayam dan sayur labu siam (orang Semarang menyebutnya jipang) yang berkuah encer. Menurut Bu Pini yang berjualan nasi ayam di Gang Pinggir, beda nasi ayam Semarang dan nasi liwet hanyalah pada banyaknya kuah opor yang disiramkan. Orang Semarang lebih suka \”banjir\”, yaitu nasi ayam dengan kuah melimpah. Orang Solo menyukai nasi liwetnya nyemek.
Varian nasi ayam juga terletak pada kuah sayur labu siam yang mlekoh (berlemak) dan manis, versus kuah yang encer dan kurang manis. Di antara rentang keberlemakan dan kemanisan itulah masing-masing penggemar nasi ayam menjadi fanatik terhadap pedagang nasi ayam langganannya.
Benny Setiono, penulis buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, menulis di Forum (milis) Jalansutra tentang sego ayam alias nasi ayam kesukaannya, yaitu Nasi Ayam \”Karangkojo\” yang mangkal mulai sore hari di seberang RS Telogorejo, Semarang. Menurut Benny, itulah nasi ayam paling enak di Semarang. Menurut saya, nasi ayam \”Karangkojo\” ini tergolong nasi ayam yang mlekoh kuahnya.
Benita Eka Ariyanti yang punya beberapa restoran di Semarang, tentu saja, merasa berhak pula untuk menyampaikan versinya tentang nasi ayam yang paling enak.
Menurutnya, di Semarang hanya ada dua jenis nasi ayam: enak, dan uenaaak. Nominasinya adalah penjual nasi ayam di kaki lima depan sekolah Karangturi di Jalan MT Haryono, atau di depan sekolah Santo Yusuf di Bangkong. Kata Benita, di situ orang bisa duduk bersila di tikar, atau duduk di dingklik, sambil mendengarkan gosip-gosip para orang tua yang sedang menjemput putra-putri mereka. Kalau tidak salah, tempat yang dimaksud Benita ini sama dengan yang dikangeni Ronny, yaitu Nasi Ayam \”Bu Muji\”.
\”Lurah\” Jalansutra di Semarang, Widya Wijayanti, merasa perlu untuk segera menengahi perdebatan. Menurutnya, semua penjual nasi ayam di Semarang mempunyai penggemar fanatiknya masing-masing. \”Karangkojo\” menurutnya memang enak, tetapi cara makannya \”kurang joss\” karena duduk di bangku dan memakai meja. Cara makan nasi ayam yang pas, menurutnya, adalah duduk di dingklik atau bersila di tikar. Widya menyebut nasi ayam \”Bu Pini\” di Gang Pinggir dan yang di dekat kantor polisi di Jalan Brumbungan (keduanya buka sekitar pukul setengah tujuh malam), sebagai favoritnya.
Di masa kecil saya dulu, pedagang nasi ayam selalu memakai tenggok dari bambu yang digendong di belakang dengan selendang, serta mencangking panci yang berisi sayur labu siam. Kebanyakan penjual nasi ayam ini berkeliling ke rumah-rumah di sekitar kawasan Wotgandul. Karena dulu ayam merupakan makanan mewah, kami lebih sering minta sego jangan (nasi sayur) saja, yaitu nasi dan sayur labu siam, tanpa opor ayam. Sekarang, mbok-mbok penjual nasi ayam yang memakai gendongan itu masih bisa dijumpai di daerah Pecinan Semarang.
Pada malam hari, kawasan Simpang Lima yang merupakan the gathering place orang-orang Semarang, banyak juga didapati penjual nasi ayam. Di kaki lima depan Simpang Lima Plaza, misalnya, bisa didapati salah satu penjual nasi ayam yang dianggap paling populer. \”Kotak wayang\”-nya, menurut istilah Widya, baru dibuka sekitar pukul sepuluh malam. Pada malam minggu sedikitnya bisa dijumpai lima penjual nasi ayam yang ramai diserbu penggemarnya.
William Wongso
Merajang Cabe Tanpa Talenan
Menyambung cerita perjalanan saya ke Semarang bersama William Wongso beberapa minggu yang lalu, pagi-pagi kami berdua diantar Benita dan Ratna ke pasar tradisional Gang Baru, kawasan Pecinan Semarang. Bagi saya, itu adalah kunjungan nostalgia. Di masa kecil, saya dulu sering disuruh Ibu berbelanja di pasar ini. Di dekat rumah kami ada sebuah pasar bernama Grobogan. Rumah kami juga tak jauh dari Pasar Johar, pasar besar Semarang. Tetapi, bila Ibu ingin masak khusus untuk arisan, maka saya disuruh belanja di Gang Baru.
Saya belum lama menyadari bahwa hampir di setiap kota Indonesia, pasar di kawasan Pecinan selalu mempunyai barang dagangan dengan kualitas lebih bagus dan lebih lengkap. Sayur dan buah selalu lebih segar. Begitu juga ikan dan daging. Orang Tionghoa sangat menyadari bahwa masakan yang bagus harus dimulai dengan bahan-bahan yang terpilih.
Tentu saja, harga-harga bahan makanan di pasar pecinan pun sedikit lebih tinggi karena memang dipilih secara khusus. Kalau Anda pernah berbelanja di Pasar Petaksembilan di Jakarta, Anda juga akan menyadari betapa kualitas bahan makanan yang dijual di sana jauh lebih bagus daripada di pasar-pasar tradisional lainnya. Selain itu, ragam yang dijajakan di pasar-pasar pecinan pun biasanya jauh lebih lengkap.
Memang banyak orang yang prejudice terhadap pasar pecinan, seolah-olah yang dijual di sana semuanya adalah bahan makanan haram. Ya, tentu saja di sana dijual daging babi yang digelar pada meja-meja tersendiri. Mereka yang tidak memerlukan daging babi tentunya tidak perlu datang ke dekat-dekat meja itu.
Pagi itu saya sempat berbelanja ikan pari asap yang biasanya dimasak menjadi hidangan mangut iwak pe yang memang cukup khas di Semarang. Ikan pari asap termasuk komoditas yang jarang ada. Selain itu saya juga membeli dendeng udang yang juga sangat langka. Dendeng udang, menurut saya, adalah khas peranakan. Udang dibuang kulit, ekornya dibiarkan, lalu dibelah, diberi bumbu dendeng, lalu dijemur sampai kering. Sebelum digoreng, dicelup sebentar ke air dingin. Bisa membayangkan rasanya? Jangan lupa, sisa minyak gorengnya dipakai untuk membuat sambal jelantah. Ala maaaak!
Sepanjang perjalanan di Gang Baru itu mata saya nanar mencari-cari bahan makanan yang di Semarang disebut blenyik. Penampilan blenyik mirip baso kecil, tetapi dengan warna keruh dan permukaan yang tidak licin. Bulatan-bulatan ini merupakan gumpalan teri kecil halus. Digoreng dengan lapisan kocokan telur, dimakan dengan nasi hangat dan sambal jelantah sisa menggoreng dendeng udang. Hmmmh, inikah surga dunia?
Di Gang Baru pagi itu William tertarik pada kue-kue basah tradisional yang dijajakan oleh Bu Suminah. Ibu tua ini sudah 49 tahun berjualan di Gang Baru secara terus-menerus. Jajanan yang dijualnya komplet. Yang paling populer adalah ketan biru yang dimakan dengan enten-enten (parutan kelapa dimasak dengan gula aren). Aslinya dulu warna biru pada ketan dihasilkan dari kembang theleng, sejenis bunga khusus yang menghasilkan warna biru agak ungu yang cantik. Sekarang, efek warna biru itu dicapai dengan sumba khusus makanan. Ketan biru biasanya dicampur dengan ketan putih dan ketan merah-coklat, sejumput demi sejumput, sehingga menghasilkan sajian yang menarik.
William Wongso
Pecel Bu Surip
Jajanan khas lainnya adalah gendar (semacam juadah) yang dibuat dari nasi dan garam bleng (garam cair alami yang muncul dari dalam perut bumi, sumbernya di dekat Purwodadi, tak jauh dari Semarang. Mungkin inilah yang disebut air kie oleh orang Tionghoa). Gendar dimakan dengan parutan kelapa. Tentu saja Bu Suminah juga menyediakan getuk dan berbagai jajanan khas Jawa Tengah lainnya. Pembeli kebanyakan hanya menyebut jumlah uang yang ingin dibelanjakan, dan minta Bu Suminah membungkus semua jajanan secara campuran.
Untuk sementara waktu warga Semarang tidak perlu khawatir jajanan pasar akan punah. Putri Bu Suminah sekarang sudah mengikuti jejak dengan membuka dagangan di pasar yang sama. Ia masih kalah bersaing dengan ibunya. He he he, di sini baru berlaku \”hukum\” bahwa yang tua belum tentu kalah bersaing dengan yang muda.
Pagi itu kami juga singgah ke tempat Bu Surip berdagang pecel. Sama dengan pecel \”Bu Sami\” yang kami makan semalam sebelumnya, atau pecel \”Bu Sador\” di Gandekan, pecel \”Bu Surip\” ini menampilkan pecel gagrak Semarang yang khas.
Sebelum meninggalkan pasar becek Gang Baru, kami sempat mencicipi siomay \”Cap Kao King\”. Ini memang siomay legendaris yang asalnya di Kampung Ayam, Jalan Plampitan. \”Saya cuma nerusin usaha mamah,\” kata pria penjualnya yang sekarang mangkal persis di mulut pasar Gang Baru. Siomay-nya king size. Rasanya mak nyus. Harganya lima ribu sepotong. Sayang, tidak halal! Maaf!
Sumber: kompas.com